Diam, ya saat ini aku dalam fase memilih untuk diam untuk memberi ruang bagi akal berpikir lebih jernih agar tidak mengeluarkan kata-kata yang membawa emosi. Bagiku, saat ini berbicara atau memberikan penjelasan justru akan memperpanjang masalah atau percuma karena lawan bicara tidak mau mengerti. Akhirnya, karena sering disalahkan secara tidak adil oleh mereka yang merasa benar dan mengedepankan ego membuat kita kehilangan banyak energi dan lebih baik memilih diam.
Banyak orang menganggap diam sebagai kelemahan. Padahal, diam sering kali lahir dari kekuatan menahan diri. Tidak mudah menahan amarah ketika hati terluka. Tidak ringan membungkam ego saat merasa paling benar. Dan tidak sederhana memilih tenang ketika kesempatan untuk membalas terbuka lebar. Diam dalam keadaan seperti itu bukan tanda kalah, melainkan bukti bahwa seseorang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan spiritual, diam sering menjadi jalan mendekat kepada Sang Pencipta. Di tengah riuh dunia yang penuh komentar, penilaian, dan perdebatan, diam membantu hati mendengar suara nurani. Dalam keheningan, manusia belajar merenungi dirinya sendiri, menyadari kekurangannya, dan memahami bahwa tidak semua hal harus dipertontonkan kepada dunia.
This is the current newest page Previous
Next Post »

Note: Only a member of this blog may post a comment.